Menghadapi Krisis Hati

Hello guys… ini bakal jadi postingan pertama gue ditahun 2018 ini. Well..gue memutuskan mulai saat ini gue akan memberi kata ‘gue’ sebagai sudut pandang gue. Gue mau jadi kayak anak jaksel rasanya kayak apa kalo ngomong selalu pake literally or which is dan lain lain, terus kalau ingin mencap gue so soan pake bahasa inggris gapapa deh, emang bahasa inggris gue mulai tumpul makanya gue kerik nih disini. Sebetulnya ‘gue’ yang dimana dilontarkan oleh gue yang orang sunda ini diharapkan tidak memberikan konotasi belagu atau sombong tapi biar sekedar akrab gitu sih, kalo akrab kita kan bisa ngopi bareng, bisa tukeran drakor atau anime, wkwk.

Well kebanyakan curhat.

Sesuai dengan judulnya, akhir-akhir ini gue lagi crash antara otak gue sama hidup gue. Again, hal-hal kayak gini biasanya yang bikin hidup siapapun jadi dilema, termasuk gue. Naturalnya cewek itu kan melankolis, segala sesuatu selalu pakai perasaan. Sebenernya kalo gue bukan tipe cewek yang menya-menye, maksud gue disini dalam lingkup romantisme hubungan antar manusia, gue ini biasanya jarang banget banyak tuntutan perasaan ini itu dihidup percintaan gue. Dari dulu gue SMA, gue udah sering dihadapi dengan krisis atau masalah yang dimana gue gak pernah mengahadapinya pake perasaan. Contoh, seseorang lagi PDKT sama gue, dia ngedeketin gue, chat gue siang malem, perhatian sama gue, kasih gue ini itu, sampe bilang suka ke gue, namun tiba-tiba gebetan gue malah jadian sama temen gue *JENG*JENG*JEEENG*FILTER ZOOM*. Well, I don’t mind tuh. Gue gak sakit hati, malah yang ada gue bersyukur. Gue awalnya juga aneh kenapa ya gue kok bisa-bisanya lempeng gitu, bukan karna gebetan gue jeleq atau misqueen atau apa, tapi pas gue pikir-pikir ternyata gue gak melibatkan hati gue ke masalah ini, yang ada gue mikir “hmmm…mungkin tu cowok tak punya prinsip” , “mungkin tu cowok tipe-tipe yang cepet suka sama orang”, ” mungkin tu cowok pernah menemukan gue lagi ngupil “. I don’t mind it. Gue emang mantannya dikit, bisa diitung sama 5 jari doang, bukan karna milih milih, tapi gue mikir mikir, mana yang bisa gue percaya. Karna gue tau gue rapuh, ini alternatif gue dalam membentengi kerapuhan gue dengan kemampuan ini :”v

Intinya gue gak mau dimanipulasi orang. Gua gak mau orang lain ngobrak ngabrik emosi dan perasaan gue dengan cara apapun itu. Gue selalu mikir, mikir dalem dalem sebelum gue percaya sama orang, dan saat itu gue belum percaya sama gebetan gue, dan gue gak bisa melibatkan perasaan gue kalau otak gue belum bilang ‘oke’. Well intinya gitu. Gue gak akan berkomitmen kalau orangnya aja belum gue percaya. Gak percaya sama suudzon beda. Suudzon itu menjudge orang tanpa alasan jelas atau fakta, sedangkan gak percaya itu baru sekedar kesan awal lo terhadap seseorang yang bisa berubah kapan aja. Lo boleh sering skeptis sama orang kalo lo belum cukup informasi tentang orang itu, makanya gue sering observasi orang dulu sebelum gue percaya orangnya, mulai dari sosial circle nya, karakternya, sifatnya, cara ngomongnya, de el el, supaya gue gak suudzon sama orang itu dan supaya gue bisa memutuskan ke langkah selanjutnya.

Dalam menjalani suatu hubungan, ketika gue dan pasangan gue dihadapkan dengan suatu masalah, gue sebisa mungkin selalu berterus terang, langsung, to the point dan masalah itu harus dihadapi secara logically supaya gue dan pasangan gue itu dapat solusinya. Gue lebih percaya logika gue ketimbang apa yang ada di hati gue. My Decision is made by thinking not feeling. Soalnya kalau gue nangis atau marah, mengedepankan ego, masalahnya gak akan selesai bro. Gue yang menangisi keadaan gue, baper, galau kenapa partner gue seperti itu, well memang gak salah sih kalo gue nangis, gue kan manusia juga, punya emosi, tapi terus kayak gitu gak akan memberikan apa-apa selain ngabisin waktu, bikin gue terus suudzon dan terus menjaukan gue dengan partner gue. Makanya, kenapa harus dihadapi dengan logika, supaya kita mengedepankan rasionalitas ketembang hanya perasaan yang gak akan ada matinya menurut gue. Terlebih lagi kalau pakai perasaan terus, capek ga sih?

Kadang kejujuran gue kala merespon seseorang sering dikatakan terlalu “brutal” dan biasanya orang dengan pendekatan lembut ke gue selalu salah paham. Gue terlalu sakartis lah, terlalu jual mahal lah, terlalu keras kepala lah atau kaku lah. Gue emang Perceivers yang dominan, jadi sementara mungkin gue tampak keras kepala akibat terlalu skeptis dan “kejujuran brutal” gue, disaat momen gue menilai seseorang, bagi gue itu merupakan salah satu keterbukaan batin. Makanya penting bagi partner gue untuk mengingat bahwa prioritas pertama gue adalah ketepatan persepsi, jadi kalo gue salah, ada peluang baik bagi gue untuk mengenali partner gue dengan tepat.

Untuk mengimbangi kesalahpahaman semacam itu, gue mungkin beralasan bahwa kalo gue belum bisa memahami partner gue, lebih baik gue mengatasi kesulitan relasional gue. Ini dapat mengilhami gue untuk mengumpulkan sebanyak mungkin fakta dan strategi self-help yang gue dapet tentang hubungan manusia. Seandainya gue gagal dalam membuild-up kesulitan relasional gue, artinya gue gagal melihat kekurangan gue sendiri, dimana segala masalah antara gue dan partner gue, selain gue melihat kesalahan partner gue, gue juga harus terjun kedalam pemikiran gue, apa sebetulnya kesalahan gue. Gue pikir itu adil dan seimbang ketimbang gue mikir dari perspektif gue sendiri terhadap partner gue.

Ketika gue telah menjalin hubungan, gue akan sering menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengarkan daripada ngomong. Bagi gue ini adalah ungkapan rasa hormat, menahan diri dari mengoreksi atau membagikan pendapat sampai setelah pasangan gue selesai ngomong. Tujuan gue gak cuma untuk menunjukkan rasa respect tapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang pemikiran pasangan gue dan gimana hubungan ini terjalin sesempurna mungkin. Pengejaran kesempurnaan ini selalu dibahas kalo gue atau pasangan gue ngerasa gak nyaman atau lelah.

Kompleksitas dan kedalaman emosi gue sebenernya gak bisa dibagikan dengan semua orang. Soalnya ketika gue coba malah bikin sakit kepala, pusing, kebutaan, atau kematian. Makanya gue jarang curhat sama temen-temen gue atau sekedar ngadu ke instagram gue ketika gue sebel sama pasangan gue. Ketika gue menemukan seseorang yang layak buat “ngabisin waktu” bersama, sebuah hubungan terbentuk. Setelah hubungan itu diciptakan, gue akan menginvestasikan banyak waktu dan energi gue buat meningkatkan dan mempertahankannya. Entah hubungan mau berlanjut, atau akan berakhir. Bagi gue, ketika suatu hubungan sudah jauh dari visi misi awal, gue lebih baik mengakhiri kalau sudah tak terselamatkan. Makanya gue sering banget minta putus dari pasangan gue karna gue merasa gak selamat dan Karna gue ga mikir gimana perasaan gue, gue cuma mikir keutuhan dari visi misi hubungan itu.

Ketika gue benar-benar mencintai pasangan gue, gue akan mencoba memecahkan masalah sebelum masalah itu muncul. Gue pernah menanyakan ini ke pasangan gue, “kalo aku selingkuh gimana?”, pertanyaan itu gue tanyakan supaya pasangan gue bisa mikir saat ini, dan pasangan gue jawab, ” berarti ada yang kurang dari aku.”, untungnya pasangan gue menjawab dengan jawaban yang cerdas tapi agak jadi pesimis memang, terus gue menyatakan ini, “aku gak akan selingkuh di belakang kamu, Kamu harus tau kalo aku selingkuh itu artinya kamu udah gak terkualifikasi, jadi aku pasti bilang kalo aku selingkuh”, kedengerannya jahat ya, tapi gue yakin setiap orang pasti punya standar. Brave it! Bagi gue, saat itu gue bukan sedang menguji dia, tapi gue sedang membuka case yang mungkin aja terjadi pada gue dan pasangan gue mengingat kita berdua bisa sadar atau tanpa sadar dan kapanpun jauh dari visi misi kita. Saat itu gue memberikan dia kesempatan untuk sementara menerima perandaian, dan syukurnya pasangan gue merespon gue dengan pikiran terbuka juga.

kalo suatu saat dalam suatu hubungan (romantis atau sebaliknya), gue merasa dimanipulasi ke dalam situasi yang gak gue sukai, hubungan itu kemungkinan bakal berakhir dengan cepat dan gak bisa ditarik lagi dan sebaliknya.

Gue lebih suka sendirian daripada dalam hubungan yang gak memuaskan atau bikin stres. Kalau gue melihat suatu kekurangan dalam hubungan yang menyebabkan friksi, gue akan terlebih dahulu coba buat memperbaiki masalah itu sendiri. Dengan cara mencari kekurangan gue apa, seberapa besar dampak masalah itu bagi gue dan paangan gue. Makanya kadang kalo pasangan gue nanya gue kenapa dan gue jawab ” fine”, padahal gue keliatan banget lagi betenya tapi gue jawab fine, padahal gue lagi mikir sebenernya, gue belum bisa bilang karna gue belum bisa memutuskan apa dan kenapa, dan seberapa besar masalah ini sehingga gue harus bilang ke pasangan gue. Kalo gue gak bisa memperbaiki itu sendiri, solusinya gue perlu kerja sama dari pasangan gue yang kemungkinan akan terjadi perdebatan. Walaupun sebetulnya seringnya kita tak pernah bahas karna ternyata dirasa gak perlu. It heal by itself. Tetiba gak terjadi apa apa. Jadi sebenernya itu cuma drama????

Gue krisis mengungkapkan hati guys!!!

Well..kebanyakan curhat (lagi) ternyata.

And In case, mau lo diselingkuhin kek, dikhianatin kek, diboongin kek, apapun itu. Keep calm and just think then communicate it! Mau seberapa kuat sifat melankolis lo, kalo lo pake rasionalitas lo, lo pasti selamat. Think about pros and cons, kenapa lo harus lanjut atau berhenti dan start over your life. Gue emang gak sempurna, pasangan gue juga gak sempurna. Tapi dengan kita bersama sama akan jadi sempurna loh beb (ciaelaaaaaah). Nah sekarang gue mau nanya, gue udah kayak anak jaksel belum ? Wkwkwkwk.

Tidak Apa untuk menjadi Tidak Apa-Apa

Sebetulnya cerita lama dari negeri Polandia, berawal pada tahun 1978 terjadi pemberontakan antara pekerja buruh dan pemerintah. Salah satu pemberontak yang juga adalah seorang pemimpin buruh mekanik listrik di kapal milik Gdansk Shipyards bernama Lech Walesa. Ia sempat ditahan karena telah memberontak, walaupun masa penahanannya sebentar, ia tidak menyelitkan semangat perjuangannya untuk melawan pemerintah yang saat itu berada dibawah pemerintahan Jaruzelski yang cenderung komunis. Saat bebas, Walesa bekerja disebuah toko dimana hal itu membuat dirinya dipecat dan tidak bisa bekerja lagi di kapal. Kemudian setelah itu, Walesa mulai menjadi aktivis dan menjadi kepala serikat buruh.

Hasil gambar untuk lech walesa

Lech Walesa, mantan presiden Polandia. (sumber: google.com)

Masa itu adalah masa dimana Walesa semakin ‘liar’, ia semakin sering ditahan oleh dinas keamanan karena ikut mengambil bagian dari tindakan partai yang membuat pemerintahan saat itu berkuasa adalah partai komunis terancam. Dengan berbagai alasan politik, Walesa akhirnya diangkat menjadi pemimpin partai solidaritas dan berhasil mengubah Polandia menjadi negara demokratis. Dunia seperti terkejut, Walesa bukanlah Nelson Mandela yang memiliki “darah politik”, tapi dengan “kondisi” ia dapat menjadi Presiden Polandia yang bisa dikatakan karena “kecelakaan sejarah” nya. Sejujurnya saya baru mengenal dia. Tapi ini menarik untuk dibahas karena mengetahui track sejarah dan masa pemerintahannya. Saat ia menjadi pemimpin, Walesa justru biasa saja, ia tidak mengganggap bahwa kondisinya saat itu adalah suatu hal yang besar dan luar biasa. Menjadi pemimpin di negaranya adalah suatu kehormatan baginya. Selain akibat dari tindakan masa lalunya yang sebenarnya membela dirinya sebagai buruh dan pro-rakyat, dengan rasa pro-rakyatnya itu dan kecerdasannya mendiplomatis rakyat terutama teman-teman sesama buruh, akhirnya ia dielu-elukan dan dipilih menjadi presiden, namun hal tersebut tidak membuat dia menjadi buta. Bagi Walesa itu adalah hal yang lumrah, Walesa memimpin Polandia selama 5 tahun berturut-turut. Ia kalah pada tahun ke-6 nya. Namun itu tidak membuat perubahan nasibnya menjadi “terlihat malang”, ia menganggap bahwa wajar apabila kepemimpinan itu berganti-ganti.  Walesa kembali menjadi buruh di kapal setelah ia tidak menjabat lagi menjadi presiden Polandia dengan  dompet yang sudah “membengkak” itu. Bagi saya adalah rekor yang luar biasa sebagai seorang yang katakanlah “biasa saja”, seorang buruh pabrik yang keras dan cenderung ada dalam kalkulasi matematika peluh keringat berubah total menjadi presiden Polandia. Tapi apakah yang yang dapat kita pelajari?

Konon ini hanya terjadi di Indonesia dimana tidak sedikit para mantan pejabat yang “bingung” ketika berhenti menjabat. Tidak punya anak buah, tidak punya kekuasaan, tidak ada jabatan, tidak memegang uang banyak adalah sesuatu kehampaan. Akibatnya, tidak sedikit pemimpin yang tidak mau mundur ketika saatnya mundur. Dan itu terjadi tepat di daerah dimana saya tinggal. Dengan hebatnya, mereka melakukan segala cara untuk kembali menjadi pemimpin. Biasanya pada akhir-akhir masa pensiun jabatannya, mereka akan terlihat lebih peduli dengan mencanangkan berbagai program-program sosial dan kemanusiaan. Heran dan takjub, namun menyedihkan pula. Saya tidak tahu pasti apa itu makna kekuasaan bagi mereka, tapi yang jelas hal ini sudah seperti sesuatu yang begitu “dipaksakan”, sangat berbeda dengan kisah Walesa, tapi sejarah tidak selalu sama. Masalahnya adalah Saya kecewa, disisi lain saya juga tidak dapat berbuat apa-apa, minimal sebagai rakyat. Tapi hidup ini terlalu nista bila digunakan untuk sebuah penyesalan saja. Sebenarnya tidak masalah, itu adalah hak setiap warga negara indonesia untuk mencalonkan. Tapi apakah ada ketulusan atau karena jabatan semata?

Walesa berpendapat bahwa jabatan itu sementara, tidak menjabat kembali bukan berarti kehormatannya telah hilang, ia lengser karena memang sudah waktunya dan yang terpenting adalah ketulusannya selama ia menjadi pemimpin. Presiden dan buruh adalah profesi juga, amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin banyak orang terutama simpatisannya merasa kasihan padanya, tapi dalam kisahnya ia tetap tersenyum. Kita dapat mempelajari dari kisah Walesa bahwa kekuasaan itu sangat bersahaja. Kekuasaan tidak perlu dilebih-lebihkan. Kekuasaan adalah tentang kepolosan hati pemimpinnya yang menginginkan perubahan.

 

Indonesia, 07 Juni 2017

20:39

Hidup Berbeda

Banyak orang takut untuk memilih jalan yang berbeda. Jalan yang sunyi, jalan yang jarang dilewati oleh orang lain. Jalan yang begitu menggelisahkan karena tidak benar-benar tahu apa yang ada di depan sana dan apa yang akan ditemui di perjalanan. Jalan yang sebenarnya menjadi impian tapi realita kehidupan mengalahkan seluruh impian itu. Impian itu dikalahkan oleh pikirannya sendiri karena khawatiran pada kepastian masa depan. Padahal tentang masa depan, siapa yang tahu? Bagaimana kalau kita berpikir sejenak untuk memilih jalan yang berbeda. Tentu saja berbeda dengan jalan yang sedang kita lalui hari ini. Saat begitu banyak orang berlomba ingin mendapatkan beasiswa, bagaimana kalau kita menjadi orang yang memberikan beasiswa?

Meski mungkin kemampuan kita sedikit, bukan berarti tidak mungkin kan? Kita memberikan sebagian rezeki kita untuk menyekolahkan orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita? Atau harus menunggu mapan dulu, berpenghasilan banyak, baru menyekolahkan mereka? Bukankah kita bermain dengan waktu, jika itu terjadi dalam 4-8 tahun lagi, sudah berapa jenjang yang terlewatkan oleh adik-adik kita hari ini di luar sana kehilangan kesempatannya? Saat begitu banyak orang ingin keluar negeri? Adakah yang ingin keluar dari pikirannya tentang diri sendiri? Pergi menyusuri jalanan kota dan desa di negeri ini untuk bertemu dengan rakyat yang katanya dulu kita perjuangkan di tengah demonstrasi?

Bertemu dengan orang-orang yang katanya menjadi alasan kita pergi jauh, nanti ilmunya akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat? Bukankah selepas kepulangan banyak yang duduk manis di bawah AC ruang kantor perusahaan multinasional? Saat begitu banyak orang sibuk mencari pekerjaan selepas lulus dari kuliah. Bagaimana kalau kita mengambil jeda untuk menikmati perjalanan? Sudah 16 tahun kita tidak henti-hentinya sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi, sampai hampir tidak ada waktu untuk menerapkan setiap rinci pelajaran yang kita dapatkan. Karena kita sibuk mengejar nilai, IPK, mengejar masuk sekolah bagus di jenjang berikutnya? Sampai kita tidak pernah bisa memahami untuk apa kita belajar biologi dan fisika, untuk apa kita belajar tentang semua itu karena kita kebingungan dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Mari kita ambil jeda, melakukan perjalanan. Tidak perlu memikirkan tentang mencari pekerjaan, mari kita temukan dan cari tahu apa yang sebenarnya kita mau. Hidup kita jangan hanya itu-itu saja; lahir-sekolah-lulus-bekerja-menikah-punya anak-dan mati. Saat begitu banyak orang berlomba ke kota, terutama ke Jakarta. Bagaimana kalau kita kembali ke kampung halaman kita masing-masing? Tidak perlu malu meletakkan gelar sarjana kita dan duduk bersama dengan para petani, memegang cangkul, ikut panas-panasan kerjabakti. Seringnya orientasi kita terhadap materi membuat kita malu untuk melakukan hal-hal demikian, dirasa tidak sepadan dengan gelar sarjana yang kita emban. Bagaimana kalau kita membuat pekerjaan untuk diri kita sendiri, bila setiap orang berpikir demikian, tentu tidak akan ada pengangguran. Ah lagi-lagi, permasalahanya di orientasi kita terhadap kehidupan dan materi. Kita terlalu lama hidup di kota besar, sekolah di kota besar, dan gaya hidup kita pun berubah ingin mengikuti kehidupan di kota besar. Saat begitu banyak orang takut mempertahankan idealismenya.

Bagaimana kalau kita menjadi orang yang percaya bahwa hidup dengan idealisme bukanlah sebuah omong kosong. Saat orang-orang menyuruh kita agar realistis, nyatanya kehidupan ini sudah dikatakan oleh Yang Maha Kuasa bahwa semua ini semu, tidak realistis. Karena kehidupan yang hakiki adalah setelah kematian. Mengapa kita ragu untuk mempertahankan idealisme? Apakah karena takut pada kemiskinan dan masa depan? Menjadi berbeda tentu bukan hal mudah. Karena entah mengapa dunia ini terlihat begitu indah. Benar-benar melenakan. Dan masa depan terlihat begitu mencemaskan, benar-benar menakuti kita untuk membuat pilihan-pilihan yang tidak biasa.

Gagal Move On: Tuhan? Kekasih?

Belakangan ini agak susah untuk sedikit lebih multitasking dari biasanya. Beberapa bacaan baru menumpuk, tercampur antara yang berat dan ringan. Masih ada beberapa seri K-ON!! yang masih menunggu untuk ditonton. Pun terakhir, sepertinya banyak fenomena yang harus saya cerna.

Tapi menulis itu adiktif.
Seperti horcrux, saya membagi jiwa saya ke dalamnya. Demi keabadian, dan menariknya, tidak seperti J.K. Rowling yang harus membunuh seseorang di setiap bukunya, agaknya saya tidak perlu membunuh siapapun. Sebenarnya saya enggan untuk membahas ini. Malas. Masih banyak hal elementer dengan tingkat urgensi tinggi yang perlu dibahas, tapi karena kegiatan multitasking seperti ini terkadang menjemukan, jadi akhirnya saya memutuskan untuk menulisnya secara singkat namun mendetail. Anggap saja ini sebagai residu laporan penelitian lapangan dengan akurasi tinggi.

Fenomena “Ulama” Masa Kini. Tuhan?

Ada hashtag yang belakangan ini populer di jejaring sosial semacam Twitter, #UdahPutusinAja, dan entah bagaimana, nada kicauan yang menyertainya semakin lama semakin keterlaluan. Empu hashtag ini dengan santainya mengatakan, “Pilihlah pria karena masa depannya, dan pilihlah wanita karena masa lalunya.” diikuti dengan hashtag tersebut. Kalimat ini kedengarannya bijak dan sekilas tidak ada yang aneh di dalamnya, terutama jika yang membaca kicauan ini adalah para remaja galau yang cenderung mencari-cari pasangan sempurna untuk hidupnya. Padahal hidupnya sendiri belum tentu sempurna. Pikiran saya, ketika membaca kicauan ini, menelurkan dua buah pertanyaan sederhana. [1] Memangnya kita Tuhan yang bisa melihat masa depan seseorang? dan [2] Seberapa peduli seharusnya kita, terhadap masa lalu seseorang, terutama calon pasangan hidup kita?Saya sendiri, kurang begitu peduli terhadap apa yang pernah terjadi terhadap diri saya di masa lalu, dan begitu pula dengan apa yang pernah dialami orang-orang. Biarkan saja. Satu-satunya kepedulian yang tersisa adalah bagaimana masa lalu kita bisa menjadikan diri kita lebih baik dari harike hari. Masalahnya di sana. Kita menghendaki seseorang lebih baik dari diri kita atau dari dirinya yang sebelumnya, tapi kita sendiri seringkali tidak melakukan hal yang serupa.

“Aksinya mana?”

sedang skripsinya sendiri tidak membuatnya mulai menulis.

“Kamu hanya bisa menghujat dokter.”

padahal tidak ada hujatan sama sekali.

Kalau kata para psikoanalis, ini namanya defense mechanism. Istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena tidak bisa dikatakan “bertahan”. Jika ada istilah yang benar untuk menggambarkan fenomena ini, kita harus belajar banyak dari komentator sepakbola, dan kita akan menemukan istilah yang pas.

Blunder.
Tuhan sendiri pada dasarnya hanya “melihat” apa yang dilakukan seseorang di hari ini. Maksudnya, ini adalah situasi apakah “hari ini” jarak kita pada kebenaran lebih lebar ketimbang kesesatan, ataukah sebaliknya. Seorang pembunuh dan pelacur saja masih bisa diampuni karena kondisi “hari ini”.Jelas dalam Al-Qur’an bahwa di mata Tuhan, satu-satunya yang dilihat dari manusia adalah ketaqwaannya. Istilah taqwa itu sendiri mengacu pada sesuatu yang disebut ahsan. Dengan kata lain, apakah ia melakukan sesuatu yang benar “hari ini” atau tidak, dan taqwa berarti apakah ia istiqamah terhadapnya, atau apakah ia berusaha memertahankan dan meningkatkannya sesuai kemampuannya.Jadi, taqwa bukan sesuatu yang mengada-ada, bukan sesuatu yang berlebihan, dan bukan tentang kesempurnaan.

Pas.
Walaupun begitu, kita tetap tidak bisa menilai seseorang dari sana. Itu hak preogatif Tuhan, dan sebenarnya kita tidak bisa menilai sama sekali. Lantas bagaimana? Seberapa Insecure Diri Kita?

Dalam dunia anomali nan kelabu ini, agaknya sulit untuk menilai apakah seseorang bertaqwa atau tidak. Kita tidak bisa melihatnya dari hitamnya dahi atau cingkrangnya celana dan gamis yang dikenakan. Kita tidak bisa memerhatikan berapa lembar Al-Qur’an yang ia baca setiap hari. Kita tidak bisa menilainya dari berapa tulisan yang ia publikasikan setiap bulannya. Kita juga tidak bisa menghitung berapa penghasilannya setiap tahunnya, atau seberapa prestisius dan tinggi jabatannya. Bagi kita semua, itu adalah masalah. Terlebih, agaknya kita tahu dan bersikeras kalau kita bukan Tuhan, dan semoga kita tidak pernah berusaha memosisikan diri sebagai Tuhan dalam kondisi apapun.

Jadi, menurut apa yang dikatakan oleh Rasulullah, pilihlah karena diinnya. Saya, dalam kondisi malas seperti ini, pada akhirnya enggan untuk menjelaskan lebih jauh. Jadi saya singkat saja. Memilih karena diinnya kita artikan sebagai keseriusan diri menghidupi hidup dan kesiapan menghadapi maut. Kita perlu partner in crime yang bisa diajak hidup dalam kondisi apapun dan siap untuk jemputan ajal yang kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana ia datang. Itu saja. Di titik ini, bisa dibilang calon pasangan yang baik adalah orang-orang yang memiliki denyut kehidupan, dan siap menghadapi fluktuatif hidupnya dengan rasa syukur. Hidupnya tidak stagnan, dan tidak sukses, karena sukses dalam hidup berarti kematian khusnul khatimah.

Mau menikahi orang mati? Bagi banyak orang, ini adalah hal yang sebenarnya bisa ia lihat dan ia amati karena boleh dikata kasat mata. Namun sama seperti ketika saya menyelesaikan tulisan ini, ia enggan untuk menengok sisi yang satu ini.

Early Verdict: Why You Choose Him/Her?

Banyak kasus berkata lain. Ada wanita shalehah luar biasa yang masih saja mau menikahi preman dan tukang judi, atau mungkin seorang koruptor. Ada juga pria shaleh yang mau-maunya menikahi pekerja seks. Di satu sisi, bisa kita katakan ini tidak benar, yang baik untuk yang baik, dan yang buruk untuk yang buruk.Tapi kita bukan Tuhan. Itu masalahnya. Dalam banyak kasus, orang shaleh justru dikatakan celaka, dan sama banyaknya ketika orang-orang “jahat” ini dapat jaminan jannah.

Jadi, mengapa kita tidak memakai cinta saja? Tapi apa itu cinta?Tidak satupun orang yang bisa mendeskripsikannya dengan pas. Menariknya, satu-satunya penjelasan yang bisa kita pahami, ditilik dari perspektif neuroscience dan filsafat, cinta itu dapat membuat seseorang mirip dengan orang gila. Ia dapat melakukan apapun demi cintanya, seperti orang gila yang akan melakukan apapun demi kegilaannya.

Ketulusan. Ikhlas. Kemurnian.

Apapun yang terjadi, ia bahkan tidak rela untuk meninggalkan seseorang yang dicintainya walau ia jelas tahu bahwa itu bisa mengorbankan nyawanya atau mungkin kehidupannya. Maka pilihlah orang[-orang] yang membuatmu tertarik dan membuatmu “gila” karena apa yang ia lakukan terhadap kehidupannya, dan kembalikanlah urusan orang[-orang] itu kepada Sang Cinta.

Wallahu’alam.

Dalam keremangan tengah hari, November 2013
MRAR

Melinda Chuu

Aku, kalian, bumi dan Tuhan

Ini adalah pukulan yang sangat keras. Mendengar kekecewaan mereka. Betapa banyak orang yang ku sakiti. Bagaimana aku tahu ini menjadi membosankan saat semuanya berakhir dengan tidak bahagia? Aku mencoba untuk bertahan dari sisi yang licin.

Mereka semua menjatuhkanku, saat aku tahu bahwa sedikit keringat tidak akan berarti apa-apa.Ya, bagaimana aku tahu sesuatu yang  tidak ada telah merampasku?Kekosongan inilah yang seharusnya aku tuliskan dengan tinta sejarah. Katanya kebaikan berbanding terbalik dengan kejahatan. Apa itu kebaikan? Apa itu kejahatan?

Dimanakah tolak ukur bahwa ini baik dan itu tidak? Dimana? Dimana? Atau apa? Aku dengar berulang kali bahwa kehidupan disini takkan berakhir dengan indah. Bahkan sekian cinta dari Tuhan yang menggoresnya takkan merubahnya menjadi takdir yang terbalik. Itulah yang tertulis. Karena aku memiliki kedua sisi, aku bisa merasakan seluruh dunia ini menangis. Terkadang mereka ingin segera mati. Tapi aku tak ingin mereka cepat pergi.

Disinilah aku, menggoreskan sedikit kekeliruan. Dan aku ingin mati. Dunia harus mati. Tapi aku hidup. Aku bisa melihat semuanya.Sekali lagi, dimanakah orang-orang yang kusakiti? Mengertilah bahwa aku tak selalu sama. Dunia tak selalu sama. Aku suka bagian yang kau benci. Karena aku tahu, kita tak selalu sama. Tapi kita sama di dua sisi. Aku, kau dan dia menentukan dunia ini bertahan dari tangisan dan teriakan yang nantinya akan mengguncang kita semua. Aku tahu dunia ini sedang tidak bahagia, aku bilang, aku bisa menghadapinya dengan sisi yang bertentangan. Aku bilang dunia ini indah, bukan untuk berpura-pura. Dunia ini memang indah. Entah sisi yang mana yang berkata itu.

Melinda Chuu

Manusia Cangkang

Seorang teman melayangkan protes kepada saya, karena seringkali saya sulit sependapat dengan orang-orang di sekitar saya. Bukan untuk pertama kalinya, memang, karena dulu orangtua saya pun mengatakan hal yang sama.

Tidak boleh jadi orang aneh.
Tidak boleh jadi orang yang beda sendirian.

Hanya saja, saking seringnya saya mengalami hal ini, saya justru berpikir bahwa begitu homogennya lingkungan saya, walau seringkali keadaan tersebut membuat saya geli. Mereka masih saja “berdiskusi”, dan parahnya, melakukan voting untuk mengambil keputusan.

Obrolan Praktis

Saya bukan orang yang praktis. Saya tidak akan melakukan apapun, kecuali saya paham apa yang saya lakukan, dan itupun dengan pertimbangan bahwa apa yang saya lakukan berdengung, meninggalkan jejak, dan membuat saya bahagia. Istilah berdengung saya dapatkan dari seorang dosen yang menjelaskan “ilmu lebah” kepada saya, sebuah kondisi ketika dengungan seekor lebah membuat lebah-lebah lain ikut berdengung. Sedangkan, bagi saya, meninggalkan jejak adalah rekaman proses yang saya lakukan. Rekaman ini mencakup segala hal yang saya temukan, konsep-konsep yang saya bangun, kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, masalah-masalah yang teratasi, dan apa yang belum sempat saya perbaiki. Hanya saja, itu tidak akan terjadi tanpa kebahagiaan.

Kembali pada jalan yang benar, boleh dibilang saya adalah orang yang keras terhadap hal ini, atau katakanlah, disiplin. Saya tidak peduli apakah itu akan memakan proses yang begitu panjang, “abstrak”, dan rumit, karena segala sesuatu tidak dilihat dari “niat”nya, namun perjalanannya. Hal ini yang mendasari saya untuk mengemukakan bahwa segala sesuatu harus dimulai dari esensinya, identitasnya, fitrahnya, you name it.

Kita tidak bisa sekedar melempar bola untuk mendapatkan hasil yang instan. Memang, kita perlu untuk membuat tujuan konkrit. Hanya saja, konkrit di sini tidak berarti sesuatu yang berwujud dan bukan pula perubahan-perubahan instan.Kalau kita berpikir bahwa orang-orang perlu memahami apa yang kita maksud, hingga setiap detailnya, kita hanya akan mendapatkan setengah dari “hasil” konkrit itu sendiri, atau bahkan kita tidakakan mendapatkan apapun darinya. Kita gagal membuka mata kita dan orang-orang di sekitar kita terhadap pembelajaran kehidupan itu sendiri. Sebuah rangkaian apik, antara kasih sayang, cinta, semangat, dan kontinuitas. Jangan kemudian kita malah terheran-heran kala kita mengadakan beragam kebijakan, acara-acara, pertemuan-pertemuan yang efeknya tidak bertahan lama.

Melinda Chuu

Satu Lautan dan Satu Samudera

Ada suatu fase dalam hidup dimana saya merasa ambigu terhadap perasaan dan keyakinan saya. Sekian banyak cerita tauladan dan tata aturan yang dipelajari belum tentu mengantarkan saya melangkah sejengkalpun terhadap keyakinan saya. Lalu bagaimana? Berubah haluan menjadi “pura pura lupa” atau mencari sudut pandang lain tentang keyakinan saya? Saya secara pribadi memutuskan mencari sudut pandang lain dengan mengaitkannya pada bentuk ‘energi’. Pahala, dosa dan perilaku saya dicampur menjadi suatu bentuk energi dalam jiwa. Setelah beberapa waktu berjalan ternyata apa semua yang tersarankan membawa energi-energi positif, ketentraman dalam hati dan apa yang dilarang membawa kegelisahan jiwa.

Satu Lautan dan Satu Samudera menjadi bagian dari hidup saya. Satu lautan yang mengantarkan saya terhadap satu keyakinan. Saya berkeyakinan tinggi bahwa laut yang saya beri nama Defined Sea (yang tergambarkan) membuat saya memiliki keyakinan dimana Tuhan ‘tidak selalu’ atau ‘mungkin tidak akan’ atau ‘mungkin akan’ mengikuti setiap harapan saya. Defined Sea membuat saya berpikir tentang rasa aman, tentram, bahagia, ketakutan, kekuatan, dosa, pahala, sukses dan gagal bersama keyakinan terhadap Tuhan.

Sudut pandang saya terhadap Defined Sea mengenal lautan perbuatan dosa selalu diiringi dalam bentuk peperangan dalam batin. Ingin tapi tidak (karena dosa). Defined Sea membuat saya selalu bingung dan kadang kehilangan pegangan. Namun, keyakinan yang menyebabkan Undefined Sea dalam konteks kegelisahan jiwa menyebabkan saya “menang” karena ketakutan akan dosa walaupun hanya sedikit. Defined Sea menyebabkan real effort dalam setiap jam kerja saya. Defined Sea juga mengantarkan harapan dan cita-cita tertinggi saya. Konsep takdir Tuhan menyelimbuti Defined Sea. Itulah dimana kekuatan iman sangat dibutuhkan.

 

Defined Sea membutuhkan kekuatan konstan atau berkesinambungan untuk mempertahankan setiap volumenya (isi dari keyakinan tsb.). Semakin saya mampu mempertahankan Defined Sea  dengan segala macam dan bentuk usahanyamaka saya yakin Defined Sea akan menjadi samudera dengan luasan yang tak terhingga (harapan, cita2, rejeki). Begitupun sebaliknya, jika Defined Sea saya dihilangkan pondasinya, maka mungkin Defined Sea akan secepatnya surut perlahan-lahan mengikuti sampai dimana saya telah selesai menghancurkannya, mengabaikannya dan melupakannya lalu dipertemukannyalah dengan Takdir Tuhan yang tidak pernah diharapkan. Itulah Defined Sea yang kadang menakuti saya dan kadang pula memotivasi saya.

Lalu bagaimana dengan Cobaan Tuhan terhadap Defined Sea yang terjaga pondasinya?  Karena iman adalah pondasinya, dimana ada pepatah mengatakan “Curigalah jika orang beriman tidak diberi Cobaan oleh Tuhan-nya”, berusaha tapi hasilnya nihil (nol besar). Pandangan saya mengenai ini adalah 1)Karena Tuntutan orang beriman 2)Bukan Takdir 3)Coba Lagi. Poin ke-3 menjelaskan pada nilai kesanggupan iman dalam mempertahankan Defined Sea dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi. Dengan kata lain double fates (takdir ganda) didalam cobaan, yakni takdir gagal dan takdir kesempatan. Double Fates semacam ini didalamnya terdapat unsur kesempatan berhasil (tanpa meningalkan keyakinan bahwa takdir tetaplah Tuhan yang menentukan). Hampir sama seperti poin ke-3, untuk poin-2 secara mutlak ditetapkan dengan cara “blacklist” oleh Tuhan tanpa double fates. Kesia-siaankah ini? Saya rasa tidak! Karena jika takdir Tuhan itu benar, Tuhan takkan membiarkan itu terjadi jikalau ada maksudnya.

Ada seorang kakek bernama Tuan Rex yang hidup sendiri. Ceritanya Tuan Rex menemukan anak harimau yang pinsan tenggelam di dekat sebuah sungai tempat dimanaTuan Rex mencari ikan.Tuan Rex menolongnya dan membesarkannya selama beberapa tahun, tetapi setelah harimau yang diberi nama Max tersebut tumbuh dewasa di saat kondisi Max lapar berat dan tidak ada makanan, munculah insting liarnya dan hampir membunuh tuan Rex. Karena maksud tuan Rex yang malang ini baik mau menolong Max, maka semuanya tidaklah sia-sia dimata Tuhan jikalau Tuan Rex mati dimakan Harimaunya. Itulah takdir Tuan Rex yang pertama. Tidakada kesempatan apapun bagi Tuan Rex karena Takdir Tuan Rex adalah mati dimakan harimaunya. This is about Blacklist Fate.

Takdir Tuan Rex yang kedua. Lalu bagaimana nasib Max saat Tuan Rex sedang kecewa karena harimaunya hendak memakannya? Max yang diabaikan Tuan Rex, akan kelaparan saat Tuan Rex tidak memberinya daging seperti biasanya. Mungkin saat insting liarnya terpendam jauh ke dasar hatinya yang sedang mengingat Tuan Rex, Max akan menghampiri Tuannya, dan disinilah gambaran konsep ke-3. Kesempatan! Mungkin Tuan Rex  akan tidak sudi dan benar-benar membuang Max, tapi karena Max adalah teman hidup tuan Rex, maka Tuan Rex mencoba inisiatif untuk melatihnya menjadi harimau yang penurut dengan mengendalikan insting liar Max. Itulah gambaran Defined Sea dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi. Keyakinan Tuan Rex sangat tinggi untuk melanjutkan hidup bersama Max walaupun mempertaruhkan nyawanya. Efeknya bisa terjadi seperti ini, Max terlatih dan bisa mengontrol insting liarnya karena Tuan Rex telah melatihnya. Tuan Rex dan Max menjadi bersama tanpa ada rasa takut dari Tuan Rex. Ini adalah pencapaian maksimal Tuan Rex. This is about Double Fates.

Samudera sejak dulu telah sukses menunjukan pada saya bahwa samudera itu lebih luas daripada lautan. Sedangkan lautan (defined Sea) yang terjaga yang sudah saya jelaskan ini tidak mudah untuk di tempuh.Defined Sea yang terjaga yang berhasil kita kembangkan dengan pondasi iman sehingga menciptakan Samudera yang lebih luas. Setelah Defined Sea, saya ingin mengitari Samudera, samudera ini saya beri nama The Heaven Of The Sea. Tujuan Defined Sea yang sesungguhnya adalah menuju The Heaven Of The Sea.